Sejarah Tambang Batubara Ombilin, Tambang Tertua Se – ASEAN

Estimated read time 2 min read

Tambang Batubara Ombilin (sebelumnya PT Tambang Batubara Ombilin (TBO)) adalah sebuah tambang batu bara di dekat Sawahlunto, Sumatera Barat, Indonesia. Letaknya di lembah sempit di sepanjang pegunungan Bukit Barisan, di antara perbukitan Polan, Pari, dan Mato, kira-kira 70 kilometer (43 mil) timur laut Padang. Batubara ditemukan pada pertengahan abad ke-19 oleh Willem Hendrik de Greve, dan penambangan dimulai di wilayah tersebut pada tahun 1876. Tambang tersebut merupakan lokasi penambangan batu bara tertua di Asia Tenggara.

Sejarah

Batubara ditemukan di sana oleh insinyur Belanda Willem Hendrik de Greve pada tahun 1868. Penambangan dimulai di tambang terbuka pada tahun 1892 setelah pembangunan jalur kereta api. Pada masa sebelum kemerdekaan, produksi batu bara mencapai puncaknya pada tahun 1930, yaitu lebih dari 620.000 ton per tahun. Tahanan/Kettingganger (Bahasa Belanda untuk orang yang dirantai) dari Jawa dan Sumatera yang diangkut ke lokasi penambangan dengan kaki, tangan, dan leher dirantai, merupakan penambang utama. Produksi batu bara memenuhi 90 persen kebutuhan energi Hindia Belanda.

BACA JUGA : Benteng Vredeburg Peninggalan Belanda Yang Bersejarah

Di tahun 1942–1945, tambang tersebut dikuasai oleh Jepang, dan tambang tersebut mengalami penurunan. Pada tahun 1945–1958, tambang tersebut dikelola oleh direktorat pertambangan dan pada tahun 1958–1968 oleh biro perusahaan pertambangan negara. Pada tahun 1968 menjadi unit produksi Ombilin milik perusahaan pertambangan batubara negara. Produksi mencapai puncaknya pada tahun 1976 sebesar 1.201.846 ton per tahun.

Hingga tahun 2002, tambang ini beroperasi sebagai tambang terbuka. Setelah itu, hanya penambangan bawah tanah yang dilanjutkan. Baru-baru ini, CNTIC telah menginvestasikan $100 juta untuk tambang tersebut.[6] Pada tahun 2008, tambang tersebut memperkirakan cadangan sekitar 90,3 juta ton batubara kokas, dimana 43 juta ton diantaranya dapat ditambang. Tambang ini dimiliki oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dan dioperasikan oleh China National Technology Import-Export Corporation (CNTIC). Tambang ini menghasilkan sekitar 500.000 ton batu bara per tahun.[4] Hingga tahun 2019, perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam telah menghentikan operasinya di Ombilin.

You May Also Like

More From Author