Asal Usul Fahombo Dari Suku Nias

Estimated read time 2 min read

Lompat batu suku Nias atau yang disebut fahombo atau hombo batu merupakan olahraga tradisional masyarakat Nias. Olahraga yang sebelumnya adalah ritual pendewasaan masyarakat Nias ini banyak dilakukan di Pulau Nias dan menjadi pertunjukan aksi khas dari daerah tersebut. Mereka harus melompati susunan bangunan batu setinggi 2 meter dengan ketebalan tembok baru 40 cm atau lebih.

Sejarah

Pada masa lalu, pemuda Nias akan mencoba untuk melompati batu setinggi kurang lebih 2 meter, dan jika dari mereka berhasil mereka akan menjadi lelaki dewasa. Dan sudah dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah. Sejak usia 10 tahun, anak lelaki di Pulau Nias sudah akan bersiap untuk melakukan giliran “fahombo” mereka. Bisa disebut juga ritual, fahombo dianggap sangat serius dalam adat Nias. Anak lelaki yang akan melompati batu tersebut untuk mendapat status untuk kedewasaan mereka. Dengan mengenakan busana pejuang Nias atau baju adat, menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.

BACA JUGA : Mengenal Candi Borobudur, Candi Terbesar diDunia

Batu yang akan dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya juga tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar sekitar 1 meter lebih, dan panjang 60 cm. Pemuda yang akan melompat juga tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut. Tetapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat yang baik, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot bahkan sampai patah tulang. Dimasa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing,lebih menantang tentunya ya. Untuk menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih para prajurit muda agar tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

Dalam budaya Nusantara zaman dahulu, belum ada keterlibatan latihan fisik layaknya olahraga modern seperti sekarang ini. Suku asli Nusantara umumnya menghubungkan aktivitas fisik dengan praktik kesukuan daerah masing – masing; yang pada umumnya ritual, seni, kebugaran fisik dan bela diri. Tari perang dan pertempuran ritual yang ada pada suku Nusantara menjadi contoh awal dari “ritualisasi” latihan fisik di Indonesia modern. Ada banyak ritual suku asli Indonesia sangat mirip dengan cabang olahraga. Seperti tradisi fahombo Nias untuk ritual pendewasaan yang mirip dengan lari gawang dan lompat jauh di atletik.

You May Also Like

More From Author